Kamis, 16 Maret 2017

Satpol PP Wanita

SATPOL PP WANITA
Oleh
Yanti Purnamasari

Sebelum kemerdekaan, peran wanita biasanya hanya diam di rumah tanpa bisa mengambil peran di masyarakat luas. Wanita hanya dapat bekerja di dapur, sumur dan kasur itulah yang sering kita dengar sewaktu dulu. Akan tetapi dengan adanya perjuangan dari wanita pada tahun-tahun sebelumnya seperti R.A. Kartini, Cut Nyadien, dll. wanita bisa melebarkan sayapnya dalam lingkungan sosial, tidak hanya dalam hal pendidikan yang dapat wanita raih jenjang yang tinggi akan tetapi dalam hal pekerjaan pun wanita pada zaman sekarang ini dapat memilih pekerjaan dengan kemampuan mereka masing-masing.
Zaman sekarang ini disebut zamannya emansipasi wanita, saya setuju dengan adanya emansipasi wanita akan tetapi kita sebagai wanita khususnya seorang wanita karir yang sudah berkeluarga harus tetap ingat juga terhadap kewajiban yang harus dipenuhi sebagai seorang ibu rumah tangga.
Di sini saya mengambil kasus tentang SATPOL PP wanita karena menurut saya dalam kasus ini jarang sekali wanita yang menjadi SATPOL PP di Indonesia akan tetapi akhir-akhir tahun ini kita sering melihat berita di televisi anggota yang menjadi SATPOL PP ada yang beranggotakan wanita meskipun hanya minoritas. Menurut saya sendiri wanita yang menjadi anggota SATPOL PP merupakan pekerjaan yang sangat luar biasa, karena kita harus menangani kerapiahan dan ketaatan para pedagang kaki lima khusus nya di jalan raya yang kurang mengerti kerapihan.
SATPOL PP wanita juga di tugaskan untuk menjadi pihak pertama yang menjadi sarana mediasi bagi SATPOL PP dengan pihak masyarakat dengan bertujuan agar menjadi wajah baru dan tidak menimbulkan ketegangan diantara kedua belah pihak. Karena ini tercermin dari sifat wanita yang halus, lembut, dan tenang sehingga jika adanya perdebatan bisa berjalan dengan tenang dan damai tanpa diperlukannya tindakan yang keras dan pemaksaan. Dengan pendekan yang demikian itu efek dari SATPOL PP sendiri dalam menertibkan lingkungan lebih ampuh.
Ini terbukti dengan adanya SATPOL PP wanita para pedagang kaki lima lebih merasa nyaman dan senang ketika diberitahukan tentang pelarangan berdagang dengan menggunakan bahu jalan dan trotoar sebagai lahan lapak mereka dari pada dengan tindakan SATPOL PP yang mengundang adanya kekerasan.
Pekerjaan yang dilaksanakan para wanita hebat ini sungguh sangat luar biasa, mereka tidak  takut dengan resiko yang akan mereka hadapi setiap harinya. Mereka harus bergulat dengan panasnya terik matahari, bisingnya kendaraan, hiruk pikuk para pedagang yang tak tau aturan. Dan mereka juga harus bertugas sebagai seorang wanita di dalam rumah mereka baik yang sudah berkeluarga mapun yang belum berkerluarga.
Seperti keinginan para pejuang wanita terdahulu, wanita harus maju dalam membangun peradaban negara  tercinta ini. Jangan sampai malah kita  membuang sia-sia pengorbanan para pejuang wanita yang telah rela mengorbankan nyawa dan seluruh hidupnya demi kelangsungan dan keadilan yang akan wanita terima saat ini. Kita juga harus dapat membangun negeri ini dengan segala usaha yang kita berikan dalam berbagai bidang yang kita geluti. Jangan samapai para wanita Indonesia hanya bisa menatap bangsa lain yang semakin maju. Kita juga bisa menunjukan bahwa wanita-wanita Indonesia merupakan wanita yang hebat yang dapat memberi kebanggan terhadap negara tercinta ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar